Rabu, 18 April 2012

Sinopsis To Liong To 2003 episode 18

Yo Siauw tahu pemuda yang membawa pedang langit itu adalah wanita yang menyamar. Thio Bu Ki, Yo Siauw dan Raja Kelelawar memutuskan untuk mengikutinya hingga sampai di rumah peristirahatan bernama Wisma Hijau. Mereka disambut oleh 2 orang pengawal yang mempersilakan mereka menunggu untuk menemui Nona Tio. Ketiga pendekar ini heran, sudah jelas mereka dijebak kesini melalui wanita berpakaian pria yang sengaja memperlihatkan pedang langit. Tetapi mengapa disambut dengan sopan? Lagipula pengawalnya menyebut majikannya Nona, berarti tidak ada niat si Nona menutupi identitasnya. Tak lama kemudian, Nona Tio Beng muncul dan menyapa Bu Ki, Yo Siauw dan Raja Kelelawar dengan nama dan jabatan mereka di Sekte Ming secara lengkap, membuat mereka tambah heran. Menurut Tio Beng, ia telah mendengar semua tentang peristiwa di Puncak Guangming. Ia mempersilakan mereka minum anggur berkualitas yang telah disediakan. Mereka awalnya waspada takut diracun, hingga menungguTio Beng meminumnya.

Kata Bu Ki, terimakasih telah bersikap sopan, tetapi aku langsung saja, tidak basa-basi, aku ada pertanyaan: Dari mana kau dapat pedang itu? Tio Beng tersenyum, katanya “Boleh aku tanya mengapa kalian semua tertarik dengan pedang ini?”. Kata Bu Ki, orang Sekte Ming banyak binasa oleh pedang itu, termasuk ia pernah terluka oleh pedang itu. Tio Beng berkata “Kudengar anda mengalahkan banyak pesilat tangguh dengan jurus Membalikkan Langit dan Bumi, tetapi anda malah kalah oleh murid biasa dari Partai Go Bi?”. Bu Ki salah tingkah. Katanya, saat itu ia tidak waspada akan serangan tiba-tiba. Kata Tio Beng “Oh, aku pikir anda terluka karena yang menyerang adalah seorang wanita cantik, makanya pikiran tidak fokus”. Semua jadi canggung. Tio Beng mengangkat cawan anggur dan mengajak mereka bersulang. Tiba-tiba cawan itu tumpah dan baju Tio Beng basah. Iapun pamit hendak ganti baju. Ia meninggalkan pedang langit di atas meja. Raja Kelelawar tidak tahan ingin mencek pedang langit itu, ternyata itu adalah pedang langit palsu. Di dalamnya adalah pedang kayu. Yo Siauw berkata, Nona Tio ini jelas bermaksud tidak baik, lebih baik kita pergi, daripada kita dijebak. Mereka pun bergegas pergi, tetapi tiba-tiba Tio Beng muncul dengan pakaian wanita. Bu Ki pun terpana melihat kecantikannya. Tapi ia tegas mengatakan mereka harus pergi karena ada urusan.

Di perjalanan pulang, Raja Kelelawar dan Yo Siauw berdebat soal Tio Beng. Raja Kelelawar beranggapan Yo Siauw terlalu curiga. Kalau ia mau, kita pasti sudah diracun katanya. Tiba-tiba mereka semua merasa pusing, ternyata memang efek racun. Bu Ki pun berpikir keras darimana datangnya racun itu. Begitu tahu, ia memerintahkan Raja Kelelawar dan Yo Siauw agar tidak buru-buru mengerahkan tenaga dalam namun tetap bernafas seperti biasa. Bu Ki lari balik ke Wisma Hijau. Di sana, ia melihat Tio Beng. Bu Ki hanya buru-buru berjumpalitan untuk mengambil bunga-bunga di taman air sebagai obat pemunah “Aku minta beberapa tanaman” ujarnya. Tio Beng tersenyum dan tidak mencegahnya. Namun ketika Bu Ki pergi sambil berteriak “Terimakasih pemunahnya!”, Tio Beng menghalanginya dan mereka pun bertukar jurus. Bu Ki tidak menanggapi pertarungan ini dengan serius, pikirannya pada menyelamatkan rekan-rekannya. Ilmu si Nona jauh dibawahnya, namun Bu Ki menyadari kecepatan dan kelicikannya sungguh luar biasa. Kata Tio Beng “Jadi ini ilmu Memindahkan Langit dan Bumi? Tidak ada istimewanya!”. Bu Ki kemudian menunjukkan hiasan rambut Tio Beng yang direbutnya. Ini memperlihatkan bahwa sebetulnya kalau Bu Ki mau, Tio Beng sudah mati. Tio Beng malu tapi berdalih, katanya, ambil saja hiasan rambutku kalau mau! Bu Ki jadi tidak enak dituduh mencuri. Ia mengembalikannya. Eh, Tio Beng malah menuduh Bu Ki mencuri mutiara yang ada di hiasan rambut itu, karena mutiaranya hilang 2 butir. Bu Ki sungguh baru kali ini berhadapan dengan wanita yang pandai bersilat lidah. Ia yang salah, tapi ia mempersalahkan orang lain “Kau sungguh licik” katanya sambil pergi. Tio Beng berteriak “Awas saja kalau kau berani maju tiga langkah, aku akan bunuh diri!”. Sepertinya Tio Beng tahu bahwa kelemahan Bu Ki adalah terlalu baik dan tidak tega pada wanita. Bu Ki balik dan menghampiri untuk mencegahnya, tetapi ia malah dijebak masuk ke dalam lubang rahasia. Bu Ki panik dan menarik Tio Beng juga hingga mereka bersama-sama masuk dalam ruang jebakan sempit dan dalam.

Bu Ki mengerahkan tenaganya untuk keluar, tapi Tio Beng malah menertawakannya, katanya, ruangan ini dikelilingi dinding padat, sehebat apapun ilmumu kau tak bisa keluar. “Ayo, apa kau mau mengataiku, licik, kejam, silakan!” katanya. Tio Beng terus mengoceh mengejek Bu Ki. Bu Ki berpikir, gadis ini pasti tahu jalan keluarnya, makanya ia tenang-tenang saja. Tio Beng malah menyuruh Bu Ki santai. Bu Ki memegang tangan si Nona dan mengancamnya “Lekas keluarkan aku! Bagaimana aku bisa santai? Temanku sekarat dan aku santai disini?” Tio Beng malah merajuk lagi“Bunuh saja aku!!! Eh…kenapa sih kau pegang-pegang tanganku terus? Pria dan wanita, tak pantas bersentuhan!”. Taktik ini berhasil, Bu Ki jadi malu hingga melepaskan tangannya. “Apa salah Sekte Ming?” kata Bu Ki kesal. Tio Beng menjawab “Banyak yang kamu tidak tahu, karena itu kau harus dengar ceritaku dulu”. Kata Bu Ki “Aku tidak berminat, kalau kau mendongeng panjang, temanku bisa mati. Lagipula siapa yang tau cerita itu benar atau tidak, kalau kau cuma asal bunyi, benar-benar menghabiskan waktuku!” Ia mencekik Tio Beng. Tetapi lagi-lagi Tio Beng menangis “Kamu menghina wanita!!” Ia berteriak-teriak menangis, Bu Ki bingung dibuatnya. Tetapi saat dilepas ia malah tertawa terbahak-bahak. Bu Ki sungguh kesal. “Dasar! Tertawa dan menangis tak ada yang sungguhan! Kamu sangat licik dan berbahaya, wanita sepertimu lebih berbahaya daripada 10 pria!”. Tio Beng malah tertawa senang “Terima kasih atas pujianmu!”. Bu Ki berfikir keras untuk menaklukkan Tio Beng. Sudah jelas cara lembut tak bisa, keras pun salah. Akhirnya ia menotok Tio Beng. Tio Beng terduduk tak bergerak, Bu Ki membuka sepatu dan kaus kaki gadis itu dan mulai menggelitiki kaki Tio Beng. Paham ilmu akupuntur dan pengobatan, membuat Bu Ki menyentuh titik di kaki Tio Beng yang menyebabkan si Nona geli luar biasa sampai sekujur tubuhnya seperti kesemutan. Tio Beng tertawa berderai-derai dibarengi teriakan menderita, sampai mengeluarkan air mata dan memohon-mohon Bu Ki untuk menghentikannya.

Akhirnya Bu Ki pun berhenti. Tio Beng jadi sedikit malu. Ia minta Bu Ki memakaikan kaus kaki dan sepatunya. Waktu melepas tadi ia tak terpikir apapun, sekarang ketika Bu Ki memegang kakinya yang putih mulus, Bu Ki malah deg-degan dan malu sendiri. Tio Beng pun merasa hal yang sama hingga wajahnya merah merona. Bu Ki membebaskan totokan serta membiarkan Tio Beng memakai sendiri sepatunya. Keduanya terdiam salah tingkah. “Kau mau keluarkan aku atau tidak?” tanyanya. Tio Beng yang mukanya masih basah belepotan air mata akibat tertawa kegelian, akhirnya mengetuk-ngetuk dinding dengan irama tertentu, hingga pintu di atas terbuka. Bu Ki pun langsung memanjat melompat keluar, meninggalkan Tio Beng yang melamun dan senyum sendiri.

Di hutan, Yo Siauw dan orang-orang Sekte Ming sudah dikepung banyak prajurit, Bu Ki datang menyelamatkan, tetapi belum habis semua, tiba-tiba datang pengawal Tio Beng menyerukan “Semua mundur, ini perintah Nona”. Iapun memberikan sebuah kotak pada Bu Ki. Bu Ki tak begitu memperhatikan dan memberikannya pada Siao Ciao, sementara ia sendiri yang kebal racun karena ilmu 9 Yang, sibuk meramu obat untuk mengobati rekan-rekannya. Ia menjelaskan bahwa bunga-bunga yang tumbuh di taman air di wisma tersebut bukan bunga biasa. Ia tidak beracun, tetapi manakala kita menghirup baunya, bercampur dengan bau kayu dari pedang langit yang palsu, bisa menjadi racun yang mematikan. Itulah sebabnya Tio Beng meninggalkan pedang langit di meja.

Sementara itu, Yo Put Hui mengadu pada Bu Ki bahwa paman ke-6 In Li Heng tak mau makan. Bu Ki menghampirinya. In Li Heng bertanya “Jawab dengan jujur, adakah harapan aku sembuh dari cacat?” Bu Ki tertegun “Jangan bohong. Kalau ada, tentu kakak ke-3 tidak perlu hidup menderita 20 tahun menjadi tanggungan orang! Hidupku tak berguna! Sudah dikhianati, sekarang aku menjadi beban orang lain! Bunuh saja aku!!” pintanya. Bu Ki berkata, waktu ia belajar di tempat Tabib Ouw, ia pernah mendengar tentang krim He Yui yang bisa menyambungkan urat tangan kaki yang putus. “Tapi aku masih belum tahu caranya. Aku akan mencari tahu tentang ini”. Untuk sementara, In Li Heng tenang. Yo Put Hui bertanya pada Bu Ki apa itu benar, atau hanya menghibur paman? Kata Bu Ki, ia tahu teori itu ada dalam buku, namun perihal Shaolin masih menyimpan krim itu, ia juga belum tahu. Ia berterima kasih Put Hui mau merawat paman In Li Heng-nya. Kata Put Hui,”Waktu aku kecil, ibu sering bercerita tentang pendekar ke-6 Butong ini, ibu sering menangis ketika bercerita karena ia merasa bersalah telah mengkhianatinya. Aku merasa…awalnya aku kasihan, tetapi lama-lama aku ada perasaan lain padanya.”

Sementara itu di kamar, Siao Ciao mengamati kotak dari Tio Beng yang diberikan Bu Ki padanya. Bu Ki bertanya kenapa Siao Ciao belum membukanya. Kata Siao Ciao, ia takut ada senjata rahasia mematikan. Benar juga, kata Bu Ki, wanita itu amat licik. Bu Ki akhirnya membukanya dari jauh. Ternyata tidak ada apa-apa, hanya hiasan rambut Tio Beng yang sempat direbut Bu Ki. Bu Ki memasangkan hiasan rambut itu pada Siao Ciao “buatmu saja, buat apa aku menyimpan hiasan wanita” katanya. Tadinya Siao Ciao menolak, karena itu pemberian Tio Beng untuk Bu Ki. Tetapi ia menurut juga. Ia melihat Bu Ki sepertinya banyak pikiran. Bu Ki akhirnya curhat soal Tio Beng, maksud sebenarnya gadis itu, kalau ia jahat, kenapa ia menarik pasukan. Waktu Bu Ki mengambil pemunah bunga, ia tidak mencegah. Makin aku pikirkan apa motifnya, makin aku pusing dan ngeri pada wanita yang sulit ditebak ini, katanya.

Di Wisma Hijau, Tio Beng mencelupkan kakinya di kolam dan masih mengingat-ngingat kejadian dengan Tio Bu Ki. Antara senang dan sebal, tetapi ia memantapkan hati untuk menjalankan tugas dari ayahnya.

Sementara itu, Raja Kelelawar melapor pada Bu Ki bahwa Yo Siauw dan putrinya bertengkar lagi. Terdengar Yo Put Hui berkata pada ayahnya “Ayah, hadapi kenyataan, engkau mencuri kekasih orang!” Yo Siauw menjawab “Tapi kami saat itu saling menyukai”. Bu Ki datang. Ternyata, Yo Siauw tidak setuju jika rombongan Sekte Ming membawa In Li Heng ke Shaolin, karena akan memperlambat laju rombongan. Sementara Put Hui ngotot ingin terus mendampingi dan merawat In Li Heng. Put Hui ingin menebus kesalahan orang tuanya. Raja Kelelawar dengan lucu berkata “Urusan keluarga, aku tidur saja”. Kata Bu Ki, memang benar perjalanan ke Shaolin amat panjang dan berbahaya, tetapi kita tidak bisa menghalangi niat baik Put Hui untuk berbakti pada ibunya. Begini saja, aku akan membawa tim kecil menuju Shaolin, kalian tinggal disini bersama paman In”. Yo Siauw menurut. Paginya, Yo Siauw dan Put Hui sudah akur lagi.

Thio Bu Ki, Raja Kelelawar dan beberapa anak buah sampai di Shaolin. Di gerbang Shaolin, Bu Ki ingat saat ia dan kakek gurunya Thio Sam Hong menunggu 3 hari 3 malam kehujanan dan tidak dipersilakan masuk. Ia rindu pada kakek gurunya. Sampai di sana, ternyata Shaolin telah porak poranda seperti habis pertempuran. Tak ada seorang pun manusia. Arca-arca (patung) seperti dipindahkan dari posisinya Ternyata di balik arca tersebut terukir tulisan “Hancurkan Shaolin sebelum Butong. Sekte Ming jaya selamanya”. Ternyata ada orang yang lagi-lagi memfitnah Sekte Ming! Herannya, kenapa arca itu terbalik hingga tulisan tadi di belakang? Apa ada yang membela Sekte Ming? Mereka pun bergegas ke Butong, sebelum dalang semua ini sampai di sana.

Sementara itu In Li Heng merasakan firasat bahwa saudara-saudaranya di Butong dalam bahaya. Put Hui membujuknya agar bersabar menunggu Bu Ki membawakan krim obat untuknya. Namun In Li Heng malah memohon pada Put Hui untuk membawanya ke Butong, kalaupun mati, ia ingin mati di sana bersama saudaranya.


Sinopsis To Liong To 2003 episode 17

Setelah sampai di lorong rahasia, Thio Bu Ki meminta para anggota dan petinggi Sekte Ming memulihkan diri masing-masing dan saling membantu. Bu Ki sendiri menghampiri Raja Kelelawar yang langsung kowtow/sujud padanya minta maaf karena telah menjatuhkannya ke jurang. Kata Bu Ki, justru karena ia jatuh ke jurang maka bisa menemukan kitab 9 Yang dan menjadi seperti sekarang. Bu Ki menanyakan tentang In Lee. Raja Kelelawar menjawab In Lee masih hidup karena ia tak mau menghisap darah cucu In Thian Ceng (Raja Elang Langit) itu. Bu Ki lega mendengarnya.

Di atas, Bu Lie dan putrinya (keturunan Bu bersaudara/Bu Samtong yang jahat pada Thio Bu Ki) datang dan hendak menyerang namun tidak menemukan satupun anggota Sekte Ming.

Bu Ki telah selesai mengobati Raja Kelelawar. Iaberkata, kelak Raja Kelelawar tak perlu lagi menghisap darah manusia. Bu Ki meminta Yo Put Hui agar melepaskan rantai di kaki Siao Ciao. Kata Yo Put Hui, kunci rantai tersebut tertinggal di kamarnya. Yo Siauw menyuruh Yo Put Hui mengambilnya. Bu Ki meminta Siao Ciao ikut. Yo Siauw meminta Bu Ki agar waspada terhadap Siao Ciao. Bu Ki berkata, memang Siao Ciao aneh, sempat menyembunyikan wajah asli, tetapi yang aku tahu perhatiannya padaku adalah tulus. Siao Ciao dan Put Hui masuk kamar Put Hui melalui jalan rahasia. Mereka sangat terkejut ketika melihat kamar itu kosong, tidak ada yang tersisa. Nampaknya, rantai dikaki Siao Ciao tidak dapat dilepaskan selamanya.

Tiba-tiba Bu Lie datang dan menyerang Put Hui. Siao Ciao yang mengaku tidak bisa kungfu terpaksa hanya menjauh. Namun nyawa Put Hui terancam, maka Siao Ciao mencengkram Bu Lie dari belakang dan menyuruh Yo Put Hui pergi. Bu Lie akhirnya tewas. Put Hui amat terharu, ia menyesal terus mencurigai Siao Ciao, buktinya gadis pelayan itu mau berkorban untuknya. Ia minta maaf dan minta Siao Ciao memanggilnya kakak. Siao Ciao masih menolak, ia tetap memanggil Nona majikan. Mereka kembali ke lorong rahasia. Bu Ki mencoba melepas rantai di kaki Siao Ciao dengan tenaganya, namun rantai itu terbuat dari bahan yang kuat sekali. Menurut Yo Siauw, rantai itu dibuat leluhurnya dengan materi yang berasal dari batu meteorit yang jatuh ke bumi.

Bu Ching Eng, putri Bu Lie masuk ke kamar Put Hui namun menemui ayahnya sudah tak bernyawa.

Nenek Bunga Emas/Kim Hoa dan In Lee telah sampai di Pulau Es dan Api. Sampai di sana, Singa Emas menghadang mereka. Ia langsung mengenali suara Nenek Bunga Emas. Singa Emas bertanya maksud kedatangannya. Ia juga bertanya kabar saudara angkatnya Thio Cui San dan In So So. Alangkah terkejutnya Singa Emas, mendengar cerita Nenek Bunga Emas bahwa mereka telah mati bunuh diri 10 tahun lalu. Singa Emas sangat marah mendengar kenyataan pahit tersebut. Nenek Bunga Emas mencoba membujuk Singa Emas agar dia membalas dendam pada orang-orang yang telah mendesak saudara angkatnya itu mati bunuh diri. Singa Emas kemudian bertanya tentang anak angkatnya, Thio Bu Ki. Nenek Bunga Emas bercerita tentang Bu Ki yang malang. Thio Bu Ki, selain menyaksikan orang tuanya bunuh diri, di usia sekitar 10 tahun sakit parah terkena Tapak Es. Ia dibawa kakek gurunya ke Lembah Kupu-kupu untuk berobat. Di sanalah Nenek Bunga Emas bertemu dengan Bu Ki, namun setelah itu ia tidak tahu lagi nasibnya. Singa Emas menangis mendengarnya. In Lee ikut bercerita, waktu itu In Lee ingin memaksa Bu Ki ke Pulau Ular untuk berobat. Namun Bu Ki tak mau dan menggigitnya, bekas gigitan Bu Ki itu masih ada di lengannya. Singa Emas meminta In Lee mengulurkan tangannya agar ia dapat meraba bekas luka In Lee dan mengenali struktur gigi anak angkatnya. Nenek Bunga Emas berkata, ia sudah menyampaikan kabar terakhir dunia persilatan serta tentang Bu Ki. Kini ia ingin Singa Emas memberikan Golok Naga pada dirinya. Singa Emas menolak, baginya, golok itu sudah seperti satu-satunya teman yang menemani kesendiriannya. Nenek Bunga Emas terus membujuk, akhirnya mereka sepakat, bila Nenek Bunga Emas bisa mempertemukan Singa Emas dengan Bu Ki, maka Golok Naga menjadi miliknya.

Chang Ie Chun menghampiri Bu Ki dan memberi hormat. Namun,Bu Ki tidak mau di hormati sebagai ketua. Ia sudah menganggap Chang sebagai kakaknya sendiri sejak mereka bertemu di Lembah Kupu-kupu dulu. Bu Ki pergi ke Puncak Guangming untuk memeriksa keadaan. Ternyata banyak orang-orang yang menjarah di sana. Di tengah-tengah mereka Bu Ki mengenali Bu Ching Eng putri Bu Lie. Ia menghampiri Bu Ki, dan mengira Bu Ki saudara seperguruan sekaligus kekasihnya, Wei Bi yang telah tewas. Ternyata ia telah gila karena kekasih dan ayahnya telah tewas.

Para anggota Sekte Ming menyusul Bu Ki. Yo Siauw memerintahkan anggotanya untuk memenggal kepala penjarah itu. Namun Bu Ki mencegahnya. Ia hanya meminta mereka menyerahkan senjata dan pergi. Semua anggota tunduk pada Ketua Baru mereka. Ia meminta semuanya agar berjanji tidak membunuh orang tak bersalah dan tidak bertikai sesama anggota. Elang Langit kini telah bersatu kembali dengan Sekte Ming. Agenda besar Bu Ki adalah memperbaiki reputasi Sekte Ming yang rusak di dunia persilatan. Ia menentukan ada dua hal mendesak yang harus dilakukan, pertama menemukan Singa Emas, karena amanat Leluhur Yo Po Thian, Singa Emas adalah Ketua Sekte Ming selanjutnya. Kedua, siapapun yang menemukan Gada Api Suci berhak menjadi Ketua ke-34. Namun Raja Kelelawar protes. Katanya, ilmuku jauh dibawah Ketua, nah apabila aku kebetulan menemukan gada api, apakah selanjutnya aku langsung jadi ketua? Tentu saja tidak. Semua sepakat, bahwa gada api harus ditemukan tetapi Ketua tetap Thio Bu Ki, karena ilmunya lebih tinggi dari mereka. Bu Ki tak bisa menolak lagi. Ia kembali pada hal pertama yaitu menjemput Singa Emas di Pulau Es dan Api. Seluruh rombongan ingin ikut bersama Bu Ki, tetapi Bu Ki minta hanya tim kecil saja, sebagian harus membangun kembali markas yang hancur. Akhirnya Yo Siauw, Put Hui, dan Raja Kelelawar yang menyertai Bu Ki.

Di luar, Siao Ciao sedang bersedih. Bu Ki mengira karena rantai yang tak bisa dibuka, maka Bu Ki berjanji jika ia sudah berhasil menjemput Singa Emas, ia akan meminjam golok naga untuk memutus rantai itu. Padahal, Siao Ciao bersedih karena ia ingin terus bersama Bu Ki, ikut ke Pulau Es dan Api. Tapi ia tidak bilang.

Esoknya Bu Ki dan rombongan memutuskan untuk beristirahat di hutan. Mereka mendengar suara gemerincing rantai. Ternyata, Siao Ciao yang datang diam-diam. Ia meminta Bu Ki agar ia diizinkan ikut bersamanya. Bu Ki pun menyanggupi. Tiba-tiba, datang rombongan murid perguruan Go Bi yang mengaku mencari guru mereka Biat Coat. Mereka berkata Go Bi ada pertemuan, tetapi sejak dari Puncak Guangming, Biat Coat tidak muncul. Padahal kata Bu Ki, Biat Coat telah pulang sepuluh hari yang lalu. Merekapun pergi. Bu Ki dan rekannya mencurigai ada sesuatu yang tak beres. Bagaimana Biat Coat bisa melupakan janji pertemuan?

Di sepanjang perjalanan, bergelimpangan mayat-mayat dari berbagai aliran partai. Termasuk Kunlun dan Shaolin. Robongan Bu Ki tadinya curiga ada yang menghajar mereka atas nama Sekte Ming, setelah mereka pergi dikalahkan Bu Ki 10 hari lalu. Di antara mereka ada murid ke-6 Butong, In Li Heng yang terluka parah. Tulangnya patah semua kena jurus Shaolin, persis sama dengan murid ke-3 Butong Ji Tay Giam yang dulu juga patah tulang dan menjadi cacat (Episode 1). Bu Ki minta pamannya mengingat-ingat siapa yang menyerangnya. Kata In Li Heng, keadaan gelap hinga sulit mengenali, tetapi aku yakin sekali ia berkepala botak. Mereka memutuskan untuk mengobati paman ke-6 dulu.

Bu Ki meminta Yo Put Hui meramu obat atas resep yang diberikannya. Walau obat itu tidak dapat menyembuhkannya tapi dapat meredakan sakitnya. Yo Put Hui sangat iba melihat keadaan In Li Heng. Katanya “Paman In sudah cukup menderita. Ia sudah terluka hati karena ibuku mengkhianati pertunangan mereka, hingga melahirkan aku. Sekarang ia harus terluka parah bahkan terancam cacat seumur hidup. Sungguh, ia tak layak mendapatkan penderitaan terus menerus” tangis Put Hui. Bu Ki memikirkan kata-kata Yo Put Hui itu. Ia pun ikut sedih, ia bertekad mengusut ini sampai tuntas. Ia yakin orang yang menyerang pamannya dari Shaolin, tapi di lain pihak ia dilema karena tidak mau balas dendam. Ia mengajarkan orang Sekte Ming untuk tidak balas dendam dan mencari keributan, tetapi ia pribadi sangat ingin mengusut tuntas orang yang melukai pamannya ini. Ia ingin mewujudkan perdamaian, namun pamannya sungguh tidak pantas menderita. Yo Put Hui datang dan menyuapi obat pada In Li Heng. In Li Heng yang baru setengah sadar, mengira Put Hui adalah Kee Siao Hu, ibu Put Hui sekaligus mantan tunangan yang amat dicintainnya. Ia memintanya untuk mendampinginya selamanya dan jangan meninggalkannya. Yo Put Hui amat sedih melihatnya, namun mengiyakan saja sambil menyuapi obat ke mulut In Li Heng.

Thio Bu Ki menemui Yo Siauw dan Raja Kelelawar, ia berkata akan mengubah rencana, yaitu lebih dulu pergi ke Shaolin untuk mengobati paman ke-6, sebelum ke Pulau Es dan Api.

Di tempat lain, Putri Minmin memandangi Pedang Langit dan mencobanya. Ternyata pedang itu sangat kuat dan dapat meruntuhkan meja batu di depannya. Ia amat senang. Ia dan Pangeran Kecil kemudian mendapat panggilan untuk menemui pangeran ke-7 karena ibunda Pangeran Kecil sedang sakit. Pangeran ke-7 meminta Minmin dan Pangeran Kecil segera menikah, agar ibundanya yang sakit sempat melihat cucu. Minmin tidak gembira atas perintah ini, iapun memutuskan untuk pergi dari istana. Di pasar, di tempat perhentian Bu Ki dan rombongan, seorang wanita dianiaya segerombolan lelaki. Bu Ki langsung berniat menolongnya. Namun Raja Kelelawar melarangnya, takut itu jebakan. Ternyata Minmin yang menyamar sebagai pemuda datang menolong wanita tersebut. Bu Ki mengenali pedang yang dibawa Minmin adalah pedang langit. Iapun kaget. Kenapa pedang langit milik Ketua Go Bi bisa ada pada ‘pemuda’ itu?

Rombongan Bu Ki sampai di Butong, mereka mengintip dan melihat Biksu Kongxiang dari Shaolin memasuki gerbang Butong. Apa maksud sang Biksu, dan siapakah dalang yang menghancurkan Shaolin dan Butong atas nama Sekte Ming?